CINTA RAKYAT

Loreng di Tengah Anyaman Bambu: Saat Prajurit TMMD Belajar Kerajinan Keranjang Arang di Langkat

Bagikan

Langkat, Cinta Rakyat – Di sebuah gubuk sederhana di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, tawa pecah di antara bilah-bilah bambu yang berserakan. Beberapa prajurit berseragam loreng tampak berusaha serius, namun sesekali menyerah pada kelenturan bambu yang tak mudah ditaklukkan.

Anyaman yang semula tampak sederhana itu ternyata menyimpan tantangan tersendiri. Beberapa kali susunan bambu terlepas, membuat warga yang menyaksikan tak kuasa menahan senyum. Namun di balik canda itu, ada proses yang jauh lebih dalam: belajar memahami kehidupan warga desa dari dekat.

Di tempat itulah Mariana (49), pengrajin keranjang arang, menjadi “guru” dadakan. Dengan sabar ia menunjukkan cara mengikat bambu agar anyaman kuat dan tidak mudah rusak saat digunakan membawa arang.

“Harus rapat anyamannya, kalau longgar nanti rusak,” ujarnya sambil membenahi hasil karya salah satu prajurit yang tampak masih kaku.

Bagi warga Pasar Rawa, keranjang arang bukan sekadar barang kerajinan. Ia adalah bagian dari roda ekonomi yang telah lama menopang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada produksi arang tradisional.

Di bawah atap sederhana itulah, jarak antara seragam loreng dan kehidupan warga perlahan menghilang. Prajurit tak lagi sekadar hadir sebagai pelaksana pembangunan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang mereka temui setiap hari.

Kegiatan tersebut menjadi potret kecil dari pelaksanaan TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, sumur bor, dan perbaikan rumah tidak layak huni, tetapi juga membangun kedekatan sosial dengan masyarakat.

Selama hampir sebulan, para personel Satgas tinggal bersama warga. Mereka makan di dapur yang sama, membantu pekerjaan rumah tangga, berinteraksi dengan anak-anak, hingga ikut dalam aktivitas keseharian masyarakat desa.

Di Desa Pasar Rawa, kedekatan itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional. Rumah-rumah warga yang semula tenang kini kerap dipenuhi percakapan dan tawa. Sementara bagi prajurit, desa ini bukan lagi sekadar lokasi tugas, melainkan ruang belajar tentang kehidupan.

Siang itu, di antara anyaman bambu yang terus dibentuk, satu pelajaran penting perlahan mengemuka: membangun desa bukan hanya soal beton dan infrastruktur, tetapi juga tentang memahami, menyatu, dan hidup bersama masyarakatnya.

Iklan

LOKER

Channel YouTube Cinta Rakyat