Langkat, Cinta Rakyat – Pekerjaan paling menentukan itu terjadi di atas rangka besi setinggi beberapa meter. Seorang personel memanjat, merapikan pipa, mengunci sambungan. Di bawahnya, yang lain menahan tiang, memastikan tak ada yang meleset. Di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, air bersih akhirnya menemukan bentuknya: tandon yang siap menampung dan mengalirkan.
Setelah sumur bor berhasil, Satgas TMMD 128 Kodim 0203/Langkat masuk ke fase yang sering luput dari sorotan: distribusi. Karena air yang ditemukan, tanpa cara menyalurkannya, hanya akan berhenti sebagai potensi.
Tandon berwarna oranye itu kini berdiri di atas bak penampungan. Pipa-pipa mulai tersambung. Sistem mulai dibentuk. Ini bukan lagi soal menggali, tapi memastikan air benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.
Di lapangan, tak ada jarak antara TNI dan warga. Mereka bekerja dalam ritme yang sama—mengangkat, menahan, memasang. Tanpa banyak instruksi, semua tahu perannya. Gotong royong di sini bukan slogan, tapi metode kerja.
Selama ini, air bersih di Pasar Rawa adalah soal keberuntungan. Saat kemarau, ia jadi barang langka. Aktivitas rumah tangga tersendat, sanitasi terabaikan, dan risiko kesehatan meningkat. Sumur bor menjawab sebagian masalah. Tandon—dan sistem distribusinya—menyelesaikan sisanya. Jika pemasangan rampung, air tak lagi dicari. Ia akan datang.
Yang berubah bukan hanya akses, tapi posisi tawar warga terhadap kebutuhan dasarnya sendiri. Air, yang dulu jauh dan tak pasti, kini punya alamat—ditampung, diatur, lalu dialirkan.
Di bawah tandon itu, perubahan sedang dirakit. Bukan dengan pidato, tapi dengan pipa, baut, dan kerja yang tak banyak bicara.


















