Selamat datang di CINTA RAKYAT

Recent Posts

Berita Terkini

Jaga Identitas Diri, Datok Yan Djuna Ajak Warga Medan Kenakan Busana Melayu Setiap Salat Jumat

MEDAN, Cinta Rakyat — Datok Yan Djuna, pengamat bidang pariwisata serta ekonomi kreatif yang juga dikenal sebagai tokoh pemuda Melayu di Kota Medan, mengajak seluruh warga yang memiliki pakaian tradisional Melayu untuk mengenakannya saat melaksanakan ibadah Salat Jumat. Sejak pertengahan tahun 2026, seruan ini disampaikan secara terus-menerus lewat akun media sosial TikTok dan Facebook, sekaligus telah dilakukannya sendiri secara rutin setiap hari Jumat.

Datok Yan Djuna menyandang gelar Datok Setia Nara Seni Diraja Kejeruan Metar Bilad Deli. Ia juga dikenal sebagai penggiat konten budaya Melayu dan penyiar acara Resam Melayu di stasiun RRI Pro4FM Medan.

“Dengan langkah sederhana inilah kita dapat menegaskan kembali jati diri dan keunggulan Kota Medan yang berakar kuat pada peradaban Melayu sejak masa Kerajaan Aru. Kita tidak perlu menunggu keputusan atau peraturan resmi dari pemerintah kota, karena proses tersebut bisa memakan waktu lama dan belum tentu terwujud. Cukup mengenakan pakaian Melayu, itu sudah menjadi bukti nyata kepedulian kita,” ujarnya.

Menurut pandangannya, rasa bangga akan warisan budaya tidak cukup hanya diucapkan — ia harus dibuktikan lewat kebiasaan yang konsisten, tanpa menunggu arahan dari pihak berwenang.

Ia menyadari bahwa mengubah kebiasaan tidaklah mudah. Tidak semua warga laki-laki, termasuk kalangan masyarakat Melayu sendiri, memiliki pakaian tradisional dalam jumlah yang cukup. Masih ada pula yang menganggap busana Melayu hanya dipakai saat kegiatan tertentu seperti bela diri atau pertunjukan tari, atau merasa kurang praktis untuk penggunaan sehari-hari. Padahal, busana Melayu memiliki beragam model bermakna mendalam — seperti Cekak Musang dengan lima kancing yang melambangkan Rukun Islam, serta Teluk Belanga dengan satu kancing yang melambangkan keesaan Tuhan. Keduanya dapat dipadukan dengan kain samping, songket, sarung, serta peci hitam.

“Jika kita bisa mengenakan jubah bergaya Arab atau batik, tentu tidak ada alasan untuk ragu memakai pakaian Melayu. Jangan sampai rasa malu justru membuat kita menjauh dari identitas sendiri,” tegasnya.

Datok Yan Djuna sebagai Pembawa Acara Resam Melayu di Stasiun RRI Pro4FM Medan

Ia berharap seruan ini mendapat dukungan luas dari masyarakat adat Kejeruan Metar Bilad Deli, lingkungan Kesultanan Deli, serta organisasi-organisasi Melayu seperti MABMI, ISMI, DMDI, dan GAMMI. Dengan partisipasi bersama, wajah masjid-masjid di Kota Medan akan terlihat berbeda setiap hari Jumat — penuh warna dan corak khas yang sekaligus dapat menjadi daya tarik bagi pariwisata budaya.

Lebih jauh, Datok Yan Djuna menjelaskan bahwa ke-Melayuan tidak hanya dilihat dari garis keturunan, melainkan juga mencakup adat istiadat, bahasa, tradisi, dan nilai-nilai keislaman.

“Budaya Melayu tak terpisahkan dari ajaran Islam. Melayu beradat bersendikan syarak, dan syarak bersendikan Kitabullah,” ungkapnya. Pemahaman ini diharapkan menjadi renungan bersama tanpa mengurangi rasa hormat terhadap keberagaman etnis yang ada di Medan.

Selain memperkokoh jati diri budaya, gerakan ini diprediksi dapat membawa dampak ekonomi yang nyata. Semakin banyaknya orang yang mengenakan busana Melayu akan membuka peluang usaha bagi penjahit, pengrajin kain, hingga pedagang perlengkapan busana tradisional. Kegiatan pelatihan menjahit pun dapat berkembang menjadi sumber penghidupan yang melibatkan lebih banyak warga. Sebagai staf bagian Humas di Universitas Prima Indonesia (UNPRI), ia meyakini bahwa pelestarian budaya seharusnya juga memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Sejarah Kota Medan dan wilayah pesisir timur Sumatera tak lepas dari peran peradaban Melayu, kerajaan-kerajaan lokal, serta jaringan perdagangan yang telah ada sejak lama. Oleh karena itu, ia yakin gerakan ini dapat bertahan lama jika didukung oleh masyarakat, lembaga adat, organisasi, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Semoga kemuliaan budaya Melayu di tanah Medan tetap terjaga, diwariskan kepada anak cucu, dan tidak luntur dari akar sejarahnya. Jika dilakukan bersama, pakaian Melayu bukan sekadar busana — ia menjadi lambang kebanggaan, identitas, dan kekayaan wisata Tanah Deli,” tutup pernyataannya.